Lumbung Pangan Kabupaten Bekasi Terendam Banjir, Hampir 4.000 Hektar Sawah Terancam Gagal Panen
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Banjir di Kabupaten Bekasi merendam ribuan hektar sawah dan mengancam gagal panen petani.
INFO CIKARANG — Banjir besar yang melanda belasan kecamatan di Kabupaten Bekasi tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga menghantam sektor strategis daerah.
Ribuan hektar sawah di wilayah utara Bekasi, yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan, kini terendam air dan terancam mengalami gagal panen (puso).
Wilayah utara Kabupaten Bekasi selama ini menjadi tulang punggung pasokan beras, tidak hanya untuk kebutuhan lokal, tetapi juga menyuplai daerah penyangga di sekitarnya.
Namun intensitas hujan tinggi yang memicu luapan sungai, ditambah buruknya sistem irigasi, membuat lahan pertanian terendam berhari-hari.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, total lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai 3.908,9 hektar. Sawah-sawah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, dengan tingkat genangan yang bervariasi.
Wilayah terdampak terparah meliputi:
Muaragembong
Tambelang
Cabangbungin
Sukawangi
Sukaraya
Pebayuran
Di beberapa titik, genangan bertahan hingga beberapa hari sehingga mengancam pertumbuhan padi, terutama tanaman yang baru memasuki masa tanam awal.
Seorang petani asal wilayah Sukawangi, Andu (43), menggambarkan kondisi yang dihadapi petani saat ini sebagai situasi serba sulit.
“Kalau hujan ya banjir, tapi kalau kemarau kering. Bingung jadinya. Irigasinya ini tolong dibenerin supaya normal lagi,” ujar Andu, Kamis (12/2).
Menurutnya, hujan sebenarnya menjadi berkah bagi petani. Namun saat air tak terkendali, sawah justru rusak dan produktivitas terancam.
Untuk menyelamatkan tanaman, petani terpaksa menambah pupuk agar padi tetap bertahan.
“Kalau enggak ditambah pupuk, tanamannya bisa mati. Apalagi yang baru nanam bibit, bisa habis semua,” katanya.
Sebelumnya, perwakilan petani dari wilayah utara mendatangi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja untuk menyampaikan keluhan terkait sawah yang terancam puso.
Khusus di Muaragembong, kondisi diperparah oleh banjir rob. Sawah tak hanya tergenang luapan sungai, tetapi juga air laut yang masuk ke area pertanian.
Menanggapi hal itu, Asep menyebut banjir besar kali ini dipengaruhi oleh siklus lima tahunan, meski ia mengakui sistem irigasi masih memerlukan pembenahan serius.
“Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Pendataan sudah kami lakukan dan penanganan sementara terus berjalan. Infrastruktur irigasi juga menjadi perhatian utama,” ujar Asep.
Bendungan Srengseng Hilir 0 Dikebut
Asep menjelaskan, saat ini pemerintah daerah tengah menyelesaikan Bendungan Srengseng Hilir 0 (BSH-0) di Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung. Bendungan bernilai puluhan miliar rupiah ini dirancang untuk:
Mengaliri puluhan ribu hektar sawah di wilayah utara
Mengendalikan debit sungai
Menekan potensi banjir dan kekeringan
“Pekerjaan sempat terhambat cuaca dan banjir, tapi targetnya Maret sudah selesai dan bisa dioperasikan,” katanya.
Ia berharap bendungan tersebut menjadi solusi jangka menengah agar sawah tidak lagi kebanjiran saat musim hujan dan tetap mendapat air saat kemarau.
Selain pembangunan infrastruktur, Pemkab Bekasi juga menyiapkan pendampingan bagi petani yang terdampak banjir.
“Kami pastikan ada pendampingan agar jangan sampai gagal panen. Mulai dari pemulihan lahan sampai kebutuhan petani untuk tanam ulang,” tegas Asep.
Terpisah, Camat Pebayuran Hasyim Adnan mengatakan normalisasi saluran irigasi telah dimulai sejak akhir bulan lalu, khususnya di Saluran Sekunder (SS) Bendung Kedung Gede (BKG).
Sebanyak dua alat berat telah diterjunkan:
Excavator dari PJT II di titik BKG 16
Excavator dari DSDABMBK di titik BKG 26
Kegiatan ini melibatkan lintas sektor, mulai dari:
Kecamatan Pebayuran
Koramil dan Polsek Pebayuran
Pemerintah desa
BBWS Citarum
PJT II
Kementerian Pertanian
Masyarakat setempat
“Tujuannya pemulihan pasca banjir sekaligus mengoptimalkan kembali fungsi irigasi untuk pertanian,” kata Hasyim.
Ia berharap normalisasi dapat mencegah siklus banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau.
“Harapannya setelah musim hujan, petani tidak lagi khawatir sawahnya kebanjiran atau kering,” tandasnya.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar