Sarung Tak Lagi Jadi Tradisi, Ramadhan Bekasi Diwarnai Tawuran Remaja dan Kerusakan Ruko
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi tawuran remaja bermodus perang sarung yang meresahkan warga Kabupaten Bekasi selama bulan Ramadhan.
INFO CIKARANG — Bulan suci Ramadhan yang seharusnya diisi dengan kegiatan ibadah dan kebersamaan justru diwarnai aksi kekerasan jalanan di sejumlah wilayah Kabupaten Bekasi. Fenomena perang sarung yang kerap dianggap permainan musiman kini berubah menjadi tawuran brutal yang merugikan warga.
Insiden paling mencolok terjadi di Perumahan Papan Mas pada Kamis dini hari (19/2/2026).
Aksi dua kelompok remaja yang awalnya saling beradu sarung berkembang menjadi saling serang menggunakan balok kayu dan petasan.
Situasi tersebut tidak hanya memicu kepanikan warga, tetapi juga menyebabkan rolling door ruko milik warga mengalami kerusakan, menambah daftar kerugian akibat ulah remaja yang lepas kendali.
Meski tak menelan korban jiwa, peristiwa ini meninggalkan trauma dan kekhawatiran di lingkungan sekitar.
Beberapa hari berselang, pola serupa kembali terulang di Desa Pusaka Rakyat.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, puluhan remaja terlihat membawa sarung dan bambu panjang, saling kejar di tengah permukiman warga saat malam Ramadhan.
Maraknya kejadian tersebut membuat wilayah Tarumajaya hingga Cikarang Utara masuk dalam perhatian serius aparat kepolisian.
Polres Metro Bekasi pun meningkatkan patroli malam dan memperluas pendekatan pencegahan berbasis masyarakat.
Kapolres Metro Bekasi Sumarni menegaskan bahwa perang sarung tidak lagi bisa dianggap sebagai tradisi Ramadhan yang wajar.
“Kami fokus pada edukasi dan pencegahan. Masyarakat juga kami dorong aktif melapor melalui layanan Call Center 110 jika melihat potensi tawuran,” ujarnya, dikutip Rabu (25/2/2026).
Ia menambahkan, keterlibatan Kelompok Sadar Kamtibmas (Kopdar), Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), serta perangkat desa menjadi kunci untuk memutus rantai tawuran remaja yang terus berulang setiap Ramadhan.
Tak kalah penting, Sumarni menyoroti peran keluarga sebagai pengawas utama.
Menurutnya, pembiaran anak keluar rumah hingga larut malam menjadi salah satu pemicu utama perang sarung berujung kekerasan.
“Orang tua harus lebih tegas. Jangan biarkan anak keluar malam tanpa pengawasan. Ramadhan seharusnya jadi momentum pembinaan, bukan ajang kekerasan,” tegasnya.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar