Belajar dari Kasus Resbob, Ketika Konten Digital Berubah Jadi Bumerang
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month Rab, 17 Des 2025
- comment 0 komentar

Streamer Resbob ditangkap Polda Jabar.
INFO CIKARANG — Penangkapan seorang streamer bernama Resbob oleh Polda Jawa Barat menjadi salah satu peristiwa paling menyita perhatian di jagat live streaming Indonesia tahun ini.
Bukan karena prestasi, bukan pula karena konten kreatif, melainkan karena ucapan yang melampaui batas dan berujung persoalan hukum.
Apa yang awalnya dianggap ‘gaya bicara bebas’ di ruang digital, berubah menjadi pelajaran mahal tentang konsekuensi berbicara di hadapan publik.
Ekspresi penyesalan yang terekam kamera saat proses penangkapan bukan adegan sinetron atau konten settingan, itu potret nyata seseorang yang terlambat menyadari bahwa dunia maya bukan ruang tanpa aturan.
Kasus ini menegaskan satu hal penting: media sosial bukan wilayah abu-abu hukum.
Setiap kata yang diucapkan, terlebih dalam siaran langsung, memiliki konsekuensi.
Ketika pernyataan menyentuh isu suku, ras, agama, dan kelompok tertentu, hukum tak lagi memandangnya sebagai ‘konten hiburan’.
Masih banyak kreator yang menganggap isu SARA sekadar bumbu agar viral.
Padahal dalam hukum pidana, ujaran kebencian bukan soal niat bercanda atau tidak, melainkan soal dampak dan unsur perbuatannya.
Pasal 28 ayat (2) UU ITE berdiri tegas dengan ancaman hukuman yang nyata, bukan simbolik.
Ironisnya, dampak kasus seperti ini tak berhenti di ruang sidang.
Sanksi sosial, reputasi yang runtuh, hingga terhentinya pendidikan dan karier menjadi efek domino yang sering kali luput dari perhitungan para pembuat konten.
Popularitas yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam hitungan menit.
Lalu, apa yang bisa dipetik dari peristiwa ini?
Pertama, literasi digital bukan pilihan, tapi keharusan. Kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan kesadaran hukum.
Kalimat yang meluncur spontan di depan kamera bisa menjadi barang bukti yang sah.
Kedua, menghormati keberagaman adalah fondasi konten berkelanjutan.
Indonesia kaya budaya dan identitas lokal, itu bisa menjadi sumber konten positif, bukan sasaran olok-olok demi sensasi sesaat.
Kasus Resbob seharusnya menjadi refleksi kolektif, bukan sekadar tontonan.
Dunia digital memberi panggung luas, tetapi juga menuntut tanggung jawab besar.
Mikrofon dan kamera bisa mengangkat nama seseorang, namun di saat yang sama juga mampu menyeretnya ke titik terendah.
Pada akhirnya, kreator yang bertahan bukan yang paling kontroversial, melainkan yang paling bijak memahami batas.
- Penulis: Tekad Triyanto



Saat ini belum ada komentar