Guru Honorer Curhat di Media Sosial, Gaji Disebut Lebih Kecil dari Sopir Program MBG
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month Rab, 21 Jan 2026
- comment 0 komentar

Sejumlah guru honorer menyuarakan keluh kesah terkait kesejahteraan dan kebijakan pemerintah melalui media sosial.
INFO CIKARANG — Sejumlah guru honorer menyuarakan keluh kesah mereka terkait kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan tenaga pendidik non-ASN.
hati tersebut beredar luas di media sosial dan menuai perhatian publik.
Dalam unggahan yang beredar, para guru honorer mengaku hanya bisa menahan tangis melihat kondisi penghasilan yang mereka terima selama bertahun-tahun mengabdi di dunia pendidikan.
Mereka menilai jerih payah dan tanggung jawab besar sebagai pendidik belum sebanding dengan upah yang diterima setiap bulan.
Salah satu poin yang disorot adalah perbandingan penghasilan guru honorer dengan sopir dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para guru mengungkapkan, gaji yang mereka terima masih jauh di bawah penghasilan sopir program tersebut, meski tanggung jawab guru menyangkut langsung pembentukan karakter dan masa depan generasi bangsa.
Kondisi ini memunculkan rasa kecewa sekaligus kebingungan di kalangan guru honorer. Terlebih, mereka menyoroti fakta bahwa anggaran Program MBG juga bersumber dari dana pendidikan.
Hal tersebut memunculkan harapan agar pemerintah tidak hanya fokus pada program pendukung, tetapi juga lebih serius memperhatikan kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru honorer.
“Bertahun-tahun mengajar, tapi penghasilan kami masih seperti ini. Kadang rasanya sedih,” ungkap salah satu guru honorer dalam unggahan yang ramai dibagikan warganet.
Para guru honorer menegaskan, mereka tidak menolak program pemerintah yang bertujuan meningkatkan gizi dan kualitas generasi muda.
Namun, mereka berharap kebijakan yang diambil dapat lebih adil dan berimbang, dengan menempatkan kesejahteraan guru sebagai prioritas utama.
Melalui curahan hati tersebut, para guru honorer berharap pemerintah dapat mendengar suara mereka dan menghadirkan solusi nyata.
Mereka menginginkan kebijakan yang tidak hanya berpihak pada program, tetapi juga pada manusia-manusia yang setiap hari berada di garis depan pendidikan, mendidik, membimbing, dan mencerdaskan anak bangsa.
- Penulis: Tekad Triyanto



Saat ini belum ada komentar