Pasokan Tertekan, Harga Telur di Kota dan Kabupaten Bekasi Terus Merangkak Naik
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month Sen, 29 Des 2025
- comment 0 komentar

Pasokan tertekan, harga telur di Kota dan Kabupaten Bekasi merangkak naik.
INFO CIKARANG — Harga telur ayam di Kota dan Kabupaten Bekasi kembali merangkak naik menjelang pergantian tahun 2026.
Kenaikan ini tidak semata dipicu meningkatnya permintaan musiman Natal dan Tahun Baru, tetapi juga derasnya distribusi telur ke luar daerah yang membuat pasokan lokal semakin tertekan.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dikutip Infobekasi, harga telur ayam secara nasional per 25 Desember 2025 telah mencapai Rp33.050 per kilogram.
Di Kabupaten Bekasi, lonjakan harga bahkan mencapai sekitar 25 persen hanya dalam hitungan pekan.
Dari sebelumnya berada di kisaran Rp28.000 per kilogram, harga telur kini menembus Rp32.000 hingga Rp33.050 menjelang akhir Desember.
Kenaikan tersebut mulai dirasakan sejak awal bulan. Anggit (26), pedagang telur di kawasan Pasar Tambun, menyebut harga terus bergerak naik secara bertahap dalam dua pekan terakhir.
“Mulai dua minggu terakhir harga telur memang naik pelan-pelan. Sekarang kisaran Rp32.000 per kilo, sebelumnya masih di bawah Rp29.000,” ujar Anggit Senin (29/12/2025).
Menurutnya, lonjakan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru menjadi faktor utama kenaikan harga.
Namun, ia menilai arus distribusi telur ke luar daerah turut mempercepat pengetatan stok di tingkat peternak.
“Barang sebenarnya masih ada, tapi cepat keluar daerah. Jadi stok di peternakan tidak bertahan lama,” katanya.
Bekasi selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penyangga produksi dan distribusi pangan untuk wilayah Jabodetabek.
Namun, pada momentum permintaan tinggi, wilayah produsen justru ikut terdampak gejolak pasokan.
Telur dari peternakan Bekasi banyak disalurkan ke daerah lain yang permintaannya melonjak, sehingga pasar lokal menghadapi keterbatasan stok dan harga pun terdorong naik.
Dampaknya langsung dirasakan konsumen. Marnih (52), ibu rumah tangga asal Tambun, mengaku pengeluaran rumah tangganya meningkat akibat kenaikan harga telur.
“Telur itu kebutuhan pokok, dikonsumsi hampir setiap hari. Kalau harganya naik, pengeluaran dapur jadi bertambah,” ujarnya.
Selama ini, telur ayam menjadi sumber protein paling terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar