Longsor Bantar Gebang Menelan Korban, Dedi Mulyadi Minta Sistem Pengelolaan Sampah Dievaluasi
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti sistem pengelolaan sampah usai longsor gunungan sampah di TPST Bantar Gebang.
INFO CIKARANG — Tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantar Gebang kembali memicu sorotan terhadap sistem pengelolaan sampah di kawasan tersebut.
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa kepada para korban serta keluarga yang ditinggalkan.
“Ada berita duka yang perlu saya sampaikan. Telah terjadi longsor di TPA Bantar Gebang, Kota Bekasi. TPA ini merupakan tempat pembuangan sampah warga Jakarta yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta,” ujar Dedi dalam keterangannya dikutip Selasa, (10/3/2026).
Dedi berharap para korban yang meninggal mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan dan proses pencarian terhadap korban lainnya dapat segera membuahkan hasil.
“Semoga yang meninggal dunia diterima iman dan Islamnya, diampuni segala dosanya, dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala,” kata Dedi.
Selain menyampaikan duka cita, Dedi menekankan pentingnya evaluasi terhadap sistem pengelolaan tempat pembuangan sampah agar tragedi serupa tidak terulang di kemudian hari.
Menurutnya, peristiwa longsor tersebut harus menjadi pengingat bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pengawasan dan sistem yang lebih baik.
“Jadikan musibah ini sebagai pembelajaran bagi kita agar senantiasa waspada, karena peristiwa musibah sering kali terjadi tanpa diduga,” ujarnya.
Gunungan Sampah Setinggi 50 Meter Longsor
Peristiwa longsor terjadi di Zona IV TPST Bantargebang sekitar pukul 14.30 WIB.
Gunungan sampah setinggi kurang lebih 50 meter dilaporkan runtuh dan menimbun sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi.
TPST Bantargebang sendiri merupakan tempat pembuangan sampah terbesar yang menampung limbah rumah tangga dari wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Tragedi longsor di kawasan tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada tahun 2003, longsor gunungan sampah pernah menimpa permukiman warga di sekitar lokasi.
Sementara pada 2006, runtuhnya zona penampungan sampah juga sempat menimbulkan korban jiwa dan menimbun puluhan pemulung.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar