Dinkes Bekasi Pastikan Belum Ada Kasus Hantavirus, Warga Diminta Tetap Waspada
- account_circle T.T
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Dinkes Kota Bekasi memastikan belum ada temuan kasus Hantavirus. Meski begitu, warga diminta tetap waspada terhadap virus yang dibawa hewan pengerat tersebut.
INFO CIKARANG — Kabar kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi Hantavirus di tengah Samudra Atlantik memicu perhatian dunia internasional.
Virus yang ditularkan melalui hewan pengerat itu kini mulai diwaspadai sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Di Kota Bekasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan hingga Jumat (8/5/2026) belum ditemukan kasus Hantavirus di wilayahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan menyusul meningkatnya perhatian global terhadap virus tersebut.
“Hantavirus belum terdeteksi di Kota Bekasi,” ujarnya.
Meski belum ditemukan kasus, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
Pasalnya, virus ini diketahui dapat menular melalui urin, air liur, maupun kotoran tikus yang terkontaminasi.
Satia menjelaskan, Hantavirus memiliki dua jenis utama yang berbahaya bagi manusia.
Pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan memiliki tingkat kematian cukup tinggi.
“HPS memiliki risiko kematian mencapai 40 hingga 50 persen,” katanya.
Jenis kedua adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dapat menyebabkan gangguan serius pada ginjal hingga gagal ginjal akut.
Meski tingkat kematiannya lebih rendah dibanding HPS, HFRS tetap dinilai berbahaya jika tidak segera ditangani.
Salah satu tantangan terbesar dari Hantavirus adalah gejalanya yang mirip flu biasa.
Penderita umumnya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, hingga sakit perut.
Karena gejalanya menyerupai penyakit umum lainnya, banyak kasus berpotensi terlambat terdeteksi.
Dinkes Kota Bekasi mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, terutama area yang rawan menjadi sarang tikus, guna mengurangi risiko penyebaran penyakit zoonosis tersebut.
- Penulis: T.T



Saat ini belum ada komentar