Warga Minta Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok Ditata Ulang Jadi Ikon Sejarah Bekasi
- account_circle T.T
- calendar_month 13 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok di Desa Sukadanau, Cikarang Barat, kini berdiri miring setelah mengalami kerusakan akibat ditabrak kendaraan beberapa waktu lalu. Warga berharap kawasan tersebut ditata ulang menjadi ikon sejarah Kabupaten Bekasi.
INFO CIKARANG – Tugu Bambu Runcing yang berada di Pertigaan Warung Bongkok, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, memang telah selesai diperbaiki setelah rusak akibat ditabrak mobil box milik perusahaan logistik beberapa waktu lalu.
Namun, kondisi tugu bersejarah tersebut kini tak lagi bisa berdiri tegak seperti sebelumnya.
Kerusakan yang terjadi pada bagian fondasi membuat bangunan yang diduga sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) itu hanya bisa diperbaiki secara terbatas.
Akibatnya, bentuk tugu yang menjadi salah satu penanda sejarah perjuangan rakyat Bekasi kini terlihat miring dan jauh dari kondisi ideal.
Eko Djatmiko, warga setempat sekaligus cucu pejuang kemerdekaan asal Bekasi, Arnaen, mengatakan proses perbaikan dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat setelah perusahaan logistik yang kendaraannya menabrak tugu memberikan bantuan dana melalui pemerintah desa.
“Pihak perusahaan logistik akhirnya memberikan bantuan berupa uang yang kemudian disalurkan kepada masyarakat untuk memperbaiki tugu. Tapi karena keterbatasan biaya, perbaikannya belum bisa mengembalikan kondisi tugu seperti semula,” kata Eko, dalam keterangannya dikutip Jum’at (29/5/2026).
Menurutnya, kerusakan yang terjadi tidak hanya pada bagian atas bangunan, tetapi juga merusak struktur fondasi yang selama puluhan tahun menopang tugu tersebut.
Fondasi tugu diketahui menggunakan konstruksi cakar ayam dengan rangka besi yang cukup kokoh.
Namun akibat benturan keras, sebagian struktur mengalami perubahan bentuk dan membutuhkan biaya besar untuk diperbaiki secara menyeluruh.
“Sebenarnya besinya harus diperbaiki dulu karena bengkok cukup parah. Tapi karena dana yang ada terbatas, akhirnya tugu tidak bisa kembali lurus seperti dulu,” ujarnya.
Selain menjadi monumen perjuangan, Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok memiliki nilai sejarah yang cukup penting bagi Kabupaten Bekasi.
Keberadaannya bahkan tercatat dalam buku Seri Lintas Sejarah Angkatan Darat 1977 karya Husein Kamali.
Tugu tersebut pertama kali dibangun atas prakarsa Arnaen pada tahun 1962 menggunakan material bambu dan kayu.
Karena tidak bertahan lama, bangunan kemudian diperbarui pada 10 Juli 1970 menggunakan bahan batu dan besi dengan bentuk menyerupai bambu runcing, simbol perlawanan rakyat Indonesia saat mempertahankan kemerdekaan.
Monumen tersebut dibangun secara swadaya oleh masyarakat sebagai penghormatan terhadap perjuangan rakyat Bekasi pada periode 1945 hingga 1946.
Seiring perkembangan wilayah dan pelebaran jalan, posisi tugu yang semula berada di pinggir jalan kini berada tepat di tengah pertigaan jalan raya.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran karena keberadaannya kerap dianggap mengganggu lalu lintas kendaraan.
Karena itu, Eko bersama warga berharap pemerintah dapat melakukan penataan ulang kawasan sekitar tugu tanpa menghilangkan nilai sejarah yang dimilikinya.
“Harusnya bisa dibuat seperti konsep bundaran, mirip Tugu Jogja yang tetap berada di tengah jalan tapi menjadi ikon kota,” katanya.
Tak hanya sekadar memperbaiki fisik bangunan, warga juga mengusulkan agar kawasan Tugu Bambu Runcing Warung Bongkok masuk dalam jalur wisata sejarah Kabupaten Bekasi yang terintegrasi dengan sejumlah situs bersejarah lainnya seperti Gedung Juang Tambun, Klenteng Pasar Cikarang, hingga kawasan bersejarah di Lemahabang.
Menurut mereka, potensi sejarah yang dimiliki Kabupaten Bekasi selama ini belum dikelola secara maksimal, padahal dapat menjadi sarana edukasi sekaligus destinasi wisata yang menarik.
“Harapan kami tugu ini mendapatkan perhatian lebih. Peninggalan sejarah seperti ini harus dilestarikan dan dijaga, seperti kawasan Kota Tua di Jakarta,” tutup Eko.
- Penulis: T.T



Saat ini belum ada komentar