Kemenag Gandeng Pemkab Bekasi dan MUI, Dorong Kehidupan Beragama yang Harmonis
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month Rab, 15 Apr 2026
- comment 0 komentar

Kepala Kemenag Kabupaten Bekasi saat menghadiri Halalbihalal MUI di Cikarang Pusat, menegaskan pentingnya kolaborasi menjaga kerukunan umat.
INFO CIKARANG — Upaya menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang beragam terus diperkuat di Kabupaten Bekasi. Kali ini, Kementerian Agama (Kemenag) setempat menegaskan komitmennya untuk mempererat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan para ulama.
Hal itu disampaikan Kepala Kemenag Kabupaten Bekasi, Ujang Ruhiyat, saat menghadiri acara Halalbihalal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi di Cikarang Pusat, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, hubungan antara pemerintah dan ulama bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial di daerah yang heterogen seperti Bekasi.
“Hubungan umaro dan ulama itu seperti dua sisi mata uang. Harus berjalan seiring untuk mewujudkan masyarakat yang religius, rukun, dan sejahtera,” ujarnya.
Baru beberapa hari menjabat, Ujang mengaku langsung merasakan pentingnya sinergi dengan para tokoh agama. Ia menyadari, program Kemenag tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan dari MUI dan para kiai di lapangan.
Dalam kesempatan itu, ia juga memaparkan tiga fokus utama yang akan dikejar ke depan. Mulai dari penguatan moderasi beragama, peningkatan layanan keagamaan, hingga kolaborasi program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Moderasi beragama, kata dia, menjadi kunci di tengah derasnya arus informasi dan potensi gesekan sosial. Nilai-nilai seperti toleransi, keseimbangan, dan keadilan harus terus dijaga agar kehidupan masyarakat tetap harmonis.
Selain itu, Kemenag juga berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui KUA, madrasah, hingga pondok pesantren. Masukan dari MUI disebut akan menjadi salah satu rujukan penting dalam perbaikan layanan tersebut.
Tak berhenti di situ, kolaborasi juga akan diperluas ke berbagai program, mulai dari pembinaan di lembaga pemasyarakatan, pemberantasan buta aksara Al-Qur’an, hingga penguatan ekonomi umat.
Ujang menilai, tantangan ke depan tidak ringan. Kabupaten Bekasi sebagai “miniatur Indonesia” memiliki dinamika sosial yang kompleks, mulai dari perbedaan latar belakang hingga pengaruh perkembangan digital.
Karena itu, ia membuka ruang seluas-luasnya bagi para ulama untuk terlibat aktif dalam merumuskan solusi bersama.
“Kami siap duduk bersama, berdiskusi, dan mencari jalan keluar untuk berbagai persoalan keumatan,” katanya.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar