CNG Disiapkan Gantikan LPG 3 Kg, Pemerintah Mulai Uji Transisi Energi Rumah Tangga pada 2026
- account_circle T.T
- calendar_month 10 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Pemerintah mulai menyiapkan penggunaan Compressed Natural Gas sebagai pengganti LPG 3 kg untuk rumah tangga melalui transisi energi bertahap mulai 2026 (folk Kalbar).
INFO CIKARANG — Pemerintah mulai menyiapkan langkah besar dalam sektor energi rumah tangga dengan mendorong penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti LPG 3 kilogram.
Program tersebut ditargetkan mulai berjalan bertahap pada 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor LPG yang selama ini terus membebani anggaran negara melalui subsidi energi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut persiapan program sudah mulai dilakukan, mulai dari sisi teknis, distribusi, hingga pengujian keamanan tabung gas.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pemerintah akan memulai implementasi secara bertahap dengan fokus awal di sejumlah kota besar di Pulau Jawa.
“Tahun ini kita mulai tahap persiapannya. Infrastruktur dan distribusi sedang disusun,” ujarnya dalam forum energi di Jakarta.
Berbeda dengan LPG biasa, CNG menggunakan tekanan yang jauh lebih tinggi. Jika LPG berada di kisaran 5 hingga 10 bar, tekanan CNG bisa mencapai 250 bar.
Karena itu, pemerintah menilai aspek keamanan menjadi perhatian utama sebelum program dijalankan ke masyarakat luas.
Pengujian tabung dan sistem distribusi kini dilakukan bersama lembaga teknis seperti Lemigas guna memastikan material tabung benar-benar aman digunakan dalam jangka panjang.
Pemerintah juga mulai menyusun standar penggunaan baru agar risiko kebocoran maupun kecelakaan dapat diminimalkan sejak awal implementasi.
Selain faktor keamanan, program ini juga diproyeksikan mampu mengurangi beban subsidi energi nasional. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut Indonesia memiliki cadangan gas bumi yang cukup besar sehingga pemanfaatannya perlu diarahkan untuk kebutuhan domestik.
Menurutnya, penggunaan CNG berpotensi menekan biaya subsidi hingga sekitar 30 persen dibandingkan LPG subsidi yang saat ini masih bergantung pada impor.
“Bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Tinggal bagaimana dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan masyarakat,” kata Bahlil.
Meski begitu, pemerintah mengakui transisi energi ini tidak akan mudah. Infrastruktur distribusi CNG masih terbatas dan membutuhkan investasi besar, terutama untuk jaringan pengisian serta distribusi tabung ke masyarakat.
Selain itu, edukasi penggunaan juga menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah perlu memastikan masyarakat memahami cara penggunaan CNG dengan aman agar tidak menimbulkan kekhawatiran di lapangan.
Jika berjalan sesuai rencana, program ini akan menjadi salah satu perubahan terbesar dalam pola konsumsi energi rumah tangga di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
- Penulis: T.T



Saat ini belum ada komentar