Ancaman PHK Massal di Bekasi Bayangi 50 Ribu Pekerja Industri Keramik, Biaya Gas Jadi Pemicu Utama
- account_circle Admin
- calendar_month 21 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi kawasan industri di Kabupaten Bekasi. Sekitar puluhan ribu pekerja disebut berada di ambang efisiensi akibat tekanan biaya produksi dan gejolak ekonomi global.
INFO CIKARANG – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) skala besar kembali menghantui sektor industri di wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi.
Kali ini, sekitar 50.000 pekerja di sektor industri keramik dan bahan bangunan disebut berada dalam posisi rawan akibat tekanan ekonomi yang semakin berat.
Ancaman tersebut muncul seiring meningkatnya biaya produksi, terutama dipicu oleh kenaikan harga gas industri yang menjadi komponen utama dalam proses produksi.
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Bekasi, Sarino, mengungkapkan bahwa wacana efisiensi tenaga kerja sebenarnya sudah lama muncul di lingkungan perusahaan.
Namun kondisi pasar yang semakin tidak stabil membuat potensi PHK kini semakin nyata.
“Kurang lebih 50.000-an karyawan ya, banyak. Itu yang di Bekasi sendiri. Di daerah lain bisa jadi bertambah,” ujar Sarino dalam keterangannya dikutip Kamis, (2/7/2027).
Biaya Gas Picu Tekanan Industri
Menurut Sarino, industri keramik menjadi salah satu sektor yang paling terpukul akibat lonjakan harga gas industri. Komponen energi tersebut merupakan kebutuhan utama dalam proses produksi sehingga berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan.
“Karena harga gas tinggi, kemampuan perusahaan berkurang, sehingga perusahaan punya wacana efisiensi karena biaya produksinya yang mahal,” jelasnya.
Kondisi ini membuat banyak perusahaan mulai menghitung ulang struktur biaya produksi. Jika tidak segera menemukan solusi, daya saing produk lokal dikhawatirkan akan semakin melemah di tengah persaingan global.
Serikat Pekerja Minta Dialog, Hindari Konflik
Meski situasi semakin mengkhawatirkan, serikat pekerja memilih untuk tidak langsung melakukan aksi besar-besaran. Mereka mendorong adanya dialog tripartit antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk mencari jalan keluar bersama.
Sarino menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas industri agar tidak terjadi penutupan pabrik secara massal.
“Kami ingin agar produksi tetap berjalan, tapi jangan sampai pekerja jadi korban utama dari efisiensi perusahaan,” tegasnya.
Kekhawatiran Buruh di Lapangan
Di tingkat pekerja, isu PHK ini mulai menimbulkan kecemasan. Banyak buruh khawatir kehilangan sumber penghasilan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Sekarang kerja saja sudah was-was. Kalau sampai PHK besar-besaran, kami bingung harus bagaimana,” ujar salah satu pekerja kawasan industri di Cikarang yang enggan disebutkan namanya.
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar