Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi Soroti Kinerja Perumda Tirta Bhagasasi: Produksi Air Besar, Tapi Masih Merugi, NRW Harus Jadi Prioritas
- account_circle Admin
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi, Junaedi (Ajuk), menyampaikan sejumlah masukan terkait peningkatan kinerja Perumda Tirta Bhagasasi agar mampu menekan kerugian, meningkatkan pelayanan air bersih, dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap PAD Kabupaten Bekasi.
INFO CIKARANG – Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi, Junaedi atau yang akrab disapa Ajuk, meminta jajaran direksi Perumda Tirta Bhagasasi bekerja lebih fokus sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Menurutnya, perusahaan daerah penyedia air minum tersebut harus mampu keluar dari persoalan kerugian yang terus terjadi serta meningkatkan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bekasi.
Ajuk menilai, setiap direksi memiliki tanggung jawab yang berbeda sehingga tidak semestinya terjadi tumpang tindih kewenangan maupun perbedaan arah kebijakan di internal perusahaan. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kegaduhan dan menghambat peningkatan kinerja perusahaan.
“Semua direksi harus bekerja sesuai job description masing-masing. Direktur Utama mengoordinasikan perusahaan, Direktur Teknik memastikan produksi dan distribusi air berjalan baik, Direktur Umum menjamin kesejahteraan karyawan, sedangkan bidang lainnya fokus menjalankan tugas sesuai kewenangannya,” ujar Ajuk.
Ia juga menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, perpindahan pegawai dari Kota Bekasi ke Kabupaten Bekasi, proses kenaikan golongan pegawai, hingga pengelolaan pembayaran kewajiban bernilai miliaran rupiah yang harus dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Selain tata kelola internal, Ajuk menilai aspek teknis menjadi faktor penting yang harus segera dibenahi, terutama terkait Non-Revenue Water (NRW) atau air yang telah diproduksi tetapi tidak menghasilkan pendapatan.
Menurutnya, tingginya angka NRW menjadi penyebab utama kerugian perusahaan karena sebagian air yang diproduksi hilang akibat kebocoran jaringan, sambungan ilegal, kerusakan meter pelanggan, maupun penggunaan yang tidak tercatat.
“Kalau produksi air besar tetapi air yang berhasil ditagihkan ke pelanggan kecil, perusahaan pasti terus merugi. Idealnya NRW berada di bawah 20 persen. Kalau sudah di atas 30 persen, itu menjadi alarm serius yang harus segera ditangani,” katanya.
Ajuk juga mendorong agar Direktorat Teknik lebih agresif melakukan peremajaan jaringan perpipaan, memperbaiki titik-titik kebocoran, mengganti meter pelanggan yang sudah tidak akurat, serta menertibkan sambungan ilegal.
Di sisi lain, ia meminta manajemen melakukan evaluasi terhadap berbagai bentuk kerja sama dengan pihak ketiga yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, evaluasi tersebut penting untuk memastikan seluruh kerja sama masih memberikan manfaat bagi perusahaan.
Apabila kapasitas produksi air dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP) baru memang diperlukan. Namun pembangunan tersebut harus dibarengi dengan perbaikan efisiensi distribusi.
“Percuma membangun IPA atau WTP baru dengan investasi miliaran rupiah kalau airnya masih banyak bocor di jaringan sebelum sampai ke pelanggan. Yang dibutuhkan bukan hanya menambah produksi, tetapi memastikan air hasil produksi benar-benar sampai ke masyarakat dan menjadi pendapatan perusahaan,” tegasnya.
Ajuk berharap pembenahan tata kelola, peningkatan efisiensi operasional, serta sinergi antar-direksi dapat menjadikan Perumda Tirta Bhagasasi sebagai perusahaan daerah yang sehat, memberikan pelayanan air bersih yang berkualitas kepada masyarakat, sekaligus mampu meningkatkan kontribusi terhadap PAD Kabupaten Bekasi.
Judul: Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi Soroti Kinerja Perumda Tirta Bhagasasi: Produksi Air Besar, Tapi Masih Merugi, NRW Harus Jadi Prioritas
Meta Deskripsi: Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi, Junaedi (Ajuk), menyoroti kinerja Perumda Tirta Bhagasasi yang dinilai belum optimal. Ia meminta direksi fokus menjalankan tugas pokok, menekan NRW, serta meningkatkan kontribusi PAD.
Caption Foto: Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi, Junaedi (Ajuk), menyampaikan sejumlah masukan terkait peningkatan kinerja Perumda Tirta Bhagasasi agar mampu menekan kerugian, meningkatkan pelayanan air bersih, dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap PAD Kabupaten Bekasi.
Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi Soroti Kinerja Perumda Tirta Bhagasasi: Produksi Air Besar, Tapi Masih Merugi, NRW Harus Jadi Prioritas
INFO CIKARANG – Tokoh Gerindra Kabupaten Bekasi, Junaedi atau yang akrab disapa Ajuk, meminta jajaran direksi Perumda Tirta Bhagasasi bekerja lebih fokus sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Menurutnya, perusahaan daerah penyedia air minum tersebut harus mampu keluar dari persoalan kerugian yang terus terjadi serta meningkatkan kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bekasi.
Ajuk menilai, setiap direksi memiliki tanggung jawab yang berbeda sehingga tidak semestinya terjadi tumpang tindih kewenangan maupun perbedaan arah kebijakan di internal perusahaan. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kegaduhan dan menghambat peningkatan kinerja perusahaan.
“Semua direksi harus bekerja sesuai job description masing-masing. Direktur Utama mengoordinasikan perusahaan, Direktur Teknik memastikan produksi dan distribusi air berjalan baik, Direktur Umum menjamin kesejahteraan karyawan, sedangkan bidang lainnya fokus menjalankan tugas sesuai kewenangannya,” ujar Ajuk.
Ia juga menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian serius, mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, perpindahan pegawai dari Kota Bekasi ke Kabupaten Bekasi, proses kenaikan golongan pegawai, hingga pengelolaan pembayaran kewajiban bernilai miliaran rupiah yang harus dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Selain tata kelola internal, Ajuk menilai aspek teknis menjadi faktor penting yang harus segera dibenahi, terutama terkait Non-Revenue Water (NRW) atau air yang telah diproduksi tetapi tidak menghasilkan pendapatan.
Menurutnya, tingginya angka NRW menjadi penyebab utama kerugian perusahaan karena sebagian air yang diproduksi hilang akibat kebocoran jaringan, sambungan ilegal, kerusakan meter pelanggan, maupun penggunaan yang tidak tercatat.
“Kalau produksi air besar tetapi air yang berhasil ditagihkan ke pelanggan kecil, perusahaan pasti terus merugi. Idealnya NRW berada di bawah 20 persen. Kalau sudah di atas 30 persen, itu menjadi alarm serius yang harus segera ditangani,” katanya.
Ajuk juga mendorong agar Direktorat Teknik lebih agresif melakukan peremajaan jaringan perpipaan, memperbaiki titik-titik kebocoran, mengganti meter pelanggan yang sudah tidak akurat, serta menertibkan sambungan ilegal.
Di sisi lain, ia meminta manajemen melakukan evaluasi terhadap berbagai bentuk kerja sama dengan pihak ketiga yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Menurutnya, evaluasi tersebut penting untuk memastikan seluruh kerja sama masih memberikan manfaat bagi perusahaan.
Apabila kapasitas produksi air dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP) baru memang diperlukan. Namun pembangunan tersebut harus dibarengi dengan perbaikan efisiensi distribusi.
“Percuma membangun IPA atau WTP baru dengan investasi miliaran rupiah kalau airnya masih banyak bocor di jaringan sebelum sampai ke pelanggan. Yang dibutuhkan bukan hanya menambah produksi, tetapi memastikan air hasil produksi benar-benar sampai ke masyarakat dan menjadi pendapatan perusahaan,” tegasnya.
Ajuk berharap pembenahan tata kelola, peningkatan efisiensi operasional, serta sinergi antar-direksi dapat menjadikan Perumda Tirta Bhagasasi sebagai perusahaan daerah yang sehat, memberikan pelayanan air bersih yang berkualitas kepada masyarakat, sekaligus mampu meningkatkan kontribusi terhadap PAD Kabupaten Bekasi.
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar