Gudang Tak Lagi Cukup, UPTD Farmasi Kabupaten Bekasi Butuh Fasilitas Baru yang Lebih Layak
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Kapasitas gudang UPTD Farmasi di Kabupaten Bekasi dinilai tidak mampu menampung lonjakan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai yang terus meningkat.
INFO CIKARANG — Lonjakan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai (BMHP) di Kabupaten Bekasi mulai berdampak pada kapasitas penyimpanan.
Gudang milik UPTD Farmasi saat ini dinilai sudah tidak lagi mampu menampung volume logistik kesehatan yang terus meningkat.
Kepala UPTD Farmasi Kabupaten Bekasi, Artik Ardianto, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki peran penting dalam memastikan ketersediaan obat, mulai dari tahap perencanaan hingga distribusi ke berbagai fasilitas layanan kesehatan.
“UPTD Farmasi menangani seluruh proses, dari perencanaan sampai distribusi. Kebutuhan ini mencakup puskesmas, rumah sakit, hingga program-program khusus seperti HIV, TBC, kusta, dan vaksinasi,” ujarnya.
Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan tersebut, kondisi gudang yang ada saat ini justru menjadi kendala utama.
Kapasitas penyimpanan dinilai sudah tidak sebanding dengan jumlah obat yang harus ditampung.
“Tahun ini saja jumlah puskesmas sudah mencapai 55 unit. Secara keseluruhan ada sekitar 57 fasilitas kesehatan yang kami layani. Sementara gudang yang tersedia sudah tidak mencukupi,” ungkapnya.
Tak hanya soal kapasitas, persoalan akses juga menjadi hambatan.
Jalur menuju gudang dinilai terlalu sempit untuk kendaraan besar seperti truk kontainer, yang kerap digunakan dalam proses distribusi.
Selain itu, area parkir yang terbatas hanya mampu menampung sekitar lima kendaraan, padahal aktivitas distribusi harian bisa melibatkan lebih dari 10 kendaraan.
“Kondisi ini tentu menyulitkan, terutama saat distribusi rutin berlangsung. Karena itu kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk menghadirkan gudang baru yang lebih representatif dan memiliki lokasi strategis,” jelasnya.
Artik menambahkan, meningkatnya kebutuhan obat tidak lepas dari pesatnya pertumbuhan penduduk dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Bekasi yang memiliki karakter wilayah urban.
Perencanaan kebutuhan obat sendiri dilakukan melalui Rencana Kebutuhan Obat (RKO) yang disusun satu tahun sebelumnya, berdasarkan data dari seluruh puskesmas dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
“Dengan perencanaan yang matang, diharapkan kebutuhan obat bisa terpenuhi secara optimal dan distribusinya tetap berjalan lancar,” pungkasnya.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar