Booth Minuman Alkohol Bikin Challenge Hafalan Surah Ad-Duha, Aksinya Tuai Kritik di Tengah Acara Musik
- account_circle Admin
- calendar_month Rab, 12 Agu 2026
- comment 0 komentar

Ilustrasi suasana booth dalam sebuah acara musik. Sebuah challenge hafalan Surah Ad-Duha yang dilakukan salah satu booth menuai kritik dari pengunjung.
INFO CIKARANG – Sebuah unggahan di media sosial menjadi perhatian setelah seorang pengunjung mengkritik aktivitas sebuah booth yang mengadakan tantangan menghafal Surah Ad-Duha dalam sebuah acara musik.
Dalam unggahan tersebut, pengunjung mengaku tengah menunggu penampilan Hindia. Di sela-sela acara, ia melihat booth yang berada di sekitar lokasi mengadakan sebuah challenge kepada pengunjung.
Tantangan tersebut berupa ajakan bagi siapa saja yang mampu menghafal Surah Ad-Duha untuk mendapatkan satu botol minuman sebagai hadiah.
Aktivitas itu kemudian menuai keberatan dari pengunggah. Ia mempertanyakan penggunaan hafalan ayat Al-Qur’an sebagai bagian dari sebuah tantangan untuk mendapatkan produk minuman.
“Menurut gua kalian ga punya etika dan adab, lo jualan minuman tapi Al Qur’an lo jadiin challenge, dan dikasih satu botol lagi,” tulis pengunggah dalam unggahannya.
Pengunggah juga mengaku merasa tidak nyaman melihat aktivitas tersebut. Menurutnya, penggunaan hafalan surah sebagai bagian dari mekanisme promosi produk dianggap tidak tepat.
Unggahan itu kemudian mendapat perhatian pengguna media sosial. Sebagian warganet menyampaikan pandangan serupa mengenai etika menggunakan materi keagamaan dalam aktivitas promosi atau permainan di sebuah acara.
Namun, terdapat pula kemungkinan bahwa pihak penyelenggara booth memiliki maksud berbeda, misalnya ingin membuat aktivitas bernuansa edukasi keagamaan. Hingga berita ini ditulis, belum diketahui secara pasti alasan pihak booth memilih Surah Ad-Duha sebagai materi challenge tersebut.
Belum ada pula keterangan resmi dari pihak booth maupun penyelenggara acara mengenai konsep kegiatan dan tujuan diadakannya tantangan tersebut.
Perdebatan mengenai aktivitas itu pada akhirnya kembali kepada bagaimana masyarakat memandang batas antara kegiatan promosi, hiburan, dan penggunaan materi keagamaan di ruang publik.
Terlepas dari berbagai pendapat yang muncul, penggunaan unsur keagamaan dalam kegiatan komersial memang membutuhkan pertimbangan yang sensitif agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah pengunjung maupun masyarakat.
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar