Kedelai dan Plastik Naik, Perajin Tempe Bekasi Kecilkan Ukuran Produk
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 32 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Ilustrasi tempe dengan ukuran lebih kecil akibat kenaikan harga bahan baku.
INFO CIKARANG — Kenaikan harga kedelai impor berdampak langsung pada produksi tempe di wilayah Kabupaten Bekasi. Para perajin pun terpaksa mencari cara agar tetap bertahan di tengah lonjakan biaya produksi.
Salah satu langkah yang diambil adalah dengan memperkecil ukuran tempe yang dijual ke pasaran.
Harga Kedelai Terus Merangkak Naik
Sukhep, perajin tempe asal Serang Baru, mengungkapkan bahwa harga kedelai kini telah mencapai Rp10.900 per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp10.000.
“Kalau biasanya 1 kuintal kedelai harganya Rp1 juta, sekarang sudah tembus Rp1 juta 90 ribu,” ujarnya.
Ia juga menyebut harga kedelai cenderung naik setiap kali pasokan baru datang.
“Setiap kali turun dari truk, harga bisa naik Rp10 ribu per kuintal. Besok juga bisa saja naik lagi,” tambahnya.
Harga Plastik Ikut Melonjak
Tak hanya kedelai, bahan pendukung seperti plastik pembungkus juga mengalami kenaikan signifikan.
Harga plastik yang sebelumnya Rp270 ribu per rol kini melonjak menjadi Rp380 ribu.
Kenaikan ini diduga dipengaruhi oleh ketergantungan bahan baku impor.
Ukuran Diperkecil, Harga Ditahan
Menghadapi kondisi tersebut, para perajin memilih untuk tidak langsung menaikkan harga jual.
Sebagai gantinya, ukuran tempe diperkecil agar tetap terjangkau bagi konsumen.
“Mungkin ukuran tempe diperkecil. Tapi kalau semua bahan naik, bisa saja nanti harga ikut naik,” jelas Sukhep.
Produksi Terancam Turun
Selain ukuran yang menyusut, kondisi ini juga berpotensi menurunkan jumlah produksi.
Perajin harus menyesuaikan volume produksi dengan kemampuan modal yang semakin terbatas.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha kecil, terutama yang bergantung pada bahan baku impor di tengah fluktuasi harga global.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar