Kemarau Belum Memuncak, Puluhan Hektare Sawah di Kabupaten Bekasi Sudah Mengering, Ancaman Meluas Bayangi Musim Tanam
- account_circle Admin
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Kondisi lahan pertanian di Kabupaten Bekasi mulai mengalami kekeringan akibat berkurangnya pasokan air irigasi selama musim kemarau.
INFO CIKARANG – Datangnya musim kemarau tidak hanya membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi mengalami kesulitan air bersih, tetapi juga mulai mengancam ketahanan pangan daerah. Di sejumlah sentra pertanian, petani kini menghadapi persoalan yang sama, yakni sawah mulai kehilangan pasokan air sebelum masa panen tiba.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi mencatat sedikitnya 75 hektare lahan persawahan telah mengalami kekeringan. Angka tersebut memang masih jauh di bawah total areal tanam, namun menjadi sinyal awal bahwa dampak musim kemarau mulai terasa di sektor pertanian.
Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 2.592 hektare lahan lainnya kini berada dalam kategori rawan terdampak apabila curah hujan tidak segera turun atau distribusi air irigasi terus berkurang.
Subkoordinator Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, menjelaskan wilayah utara menjadi kawasan yang paling cepat merasakan dampak berkurangnya debit air. Beberapa kecamatan seperti Tambelang, Pebayuran, Cabangbungin, dan Sukawangi mulai mengalami penurunan suplai air ke area persawahan.
Berbeda dengan wilayah utara yang mengandalkan jaringan irigasi, kawasan selatan seperti Serang Baru, Cibarusah, dan Bojongmangu memiliki tantangan lain. Sebagian besar lahan di daerah tersebut merupakan sawah tadah hujan sehingga sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, sebagian petani bahkan memilih memanen tanaman lebih cepat dibanding jadwal normal. Langkah tersebut dilakukan agar hasil panen masih dapat diselamatkan sebelum tanaman mengalami kekeringan yang lebih parah.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bekasi menyiapkan sejumlah strategi mitigasi. Selain memetakan wilayah rawan kekeringan, pemerintah juga menginventarisasi pompa air, memanfaatkan sumber air alternatif, hingga mempercepat koordinasi dengan BBWS dan Perum Jasa Tirta II guna menjaga distribusi air irigasi tetap berjalan.
Pemkab Bekasi juga menargetkan perlindungan lahan melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) seluas 1.500 hektare. Program ini diharapkan dapat mengurangi beban petani apabila terjadi gagal panen akibat kekeringan.
Di samping itu, petani di daerah dengan pasokan air terbatas dianjurkan mulai mempertimbangkan penanaman komoditas hortikultura yang membutuhkan air lebih sedikit sebagai langkah adaptasi terhadap musim kemarau.
Meski luas sawah yang terdampak saat ini masih relatif kecil dibanding total lahan pertanian Kabupaten Bekasi, pemerintah menilai kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele.
Apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang, potensi meluasnya lahan terdampak diperkirakan akan semakin besar sehingga upaya antisipasi perlu dilakukan sejak dini.
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar