Meski Jam Belajar Dipangkas Saat Ramadhan, SDN Wanasari 01 Cibitung Justru Jadi Sekolah Percontohan
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Guru SDN Wanasari 01 Cibitung mempraktikkan model pembelajaran RAMAH saat pendampingan dari BBGTK Jawa Barat selama program pembelajaran Ramadhan.
INFO CIKARANG — SDN Wanasari 01 di Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi ditunjuk sebagai salah satu sekolah model dalam implementasi program Pembelajaran RAMAH selama bulan Ramadhan.
Program ini merupakan inisiatif dari Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Jawa Barat di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan efektif meskipun waktu belajar di sekolah lebih singkat selama Ramadhan.
Iswara Ahli Madya BBGTK Jawa Barat, Chaerun Anwar, menjelaskan bahwa pembelajaran RAMAH dirancang sebagai model pembelajaran yang tetap bermakna meski durasi belajar mengalami penyesuaian.
“Pembelajaran RAMAH memiliki lima tahapan, mulai dari rekognisi pengetahuan hingga tahap hasil belajar yang kemudian dikomunikasikan kepada teman sekelas atau bahkan dipresentasikan dalam bentuk showcase di sekolah,” ujarnya saat melakukan pendampingan di SDN Wanasari 01 Cibitung.
Menurut Chaerun, konsep tersebut memungkinkan integrasi berbagai mata pelajaran dalam satu tema pembelajaran. Dengan pendekatan ini, guru dapat menggabungkan beberapa disiplin ilmu sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
Misalnya ketika guru mengajarkan IPS, materi tersebut dapat dikaitkan dengan pelajaran IPA, pendidikan agama, hingga numerasi.
“Numerasi tidak harus berdiri sendiri sebagai mata pelajaran terpisah. Guru bisa mengintegrasikannya melalui berbagai kegiatan, seperti membaca grafik, membuat tabulasi data, hingga aktivitas pengolahan angka yang berkaitan dengan materi pembelajaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut membuat waktu belajar yang lebih singkat selama Ramadhan tetap bermakna dan target kurikulum tetap dapat tercapai.
Program pendampingan ini dilakukan melalui lima kali pertemuan selama lima minggu, dimulai sebelum Ramadhan hingga setelah Lebaran.
Dalam proses tersebut, tim pendamping memberikan observasi, refleksi, serta umpan balik terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan guru.
Chaerun menyebut program pembelajaran RAMAH sebenarnya telah dimulai sejak Ramadhan 2025 dan kini memasuki tahun kedua pelaksanaannya.
Ke depan, model pembelajaran ini berpotensi diadaptasi secara lebih luas di tingkat nasional.
Sementara itu, Kepala SDN Wanasari 01 Cibitung, Sulistyowati, mengatakan sekolahnya terpilih menjadi sekolah model karena para guru memiliki semangat tinggi untuk mengikuti program tersebut sejak awal dibuka.
Ia menilai model pembelajaran RAMAH sangat relevan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang sedang diterapkan di sekolahnya karena mampu mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam satu kegiatan belajar.
“Guru akhirnya menyadari bahwa satu mata pelajaran bisa dikaitkan dengan pelajaran lain. Misalnya saat mengajarkan Pendidikan Pancasila tentang sila pertama, itu bisa dikaitkan dengan kegiatan pesantren kilat sekaligus pembelajaran numerasi melalui pengelolaan kotak amal,” jelasnya.
Sulistyowati berharap program tersebut tidak hanya meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi para siswa.
“Program ini sangat bermanfaat karena tanpa biaya tambahan guru bisa meningkatkan kompetensinya melalui program yang difasilitasi pemerintah, dan dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh para siswa,” tutupnya.
Selain SDN Wanasari 01 Cibitung, sejumlah sekolah lain di Kabupaten Bekasi juga turut menjadi bagian dari implementasi program ini, di antaranya SDN Mekarsari 06, SMPN 2 Tambun Selatan, SDN Jatiwangi 02, SDN Sukadanau 06, serta SMAN 2 Cikarang Pusat.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar