Awal Ramadan 2026 Ditentukan Hilal, Ini Proses dan Dasar Penetapannya
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Pemantauan hilal menjadi faktor krusial dalam menentukan awal Ramadan 2026 yang mengacu pada sistem penanggalan Hijriah dan keputusan resmi pemerintah.
INFO CIKARANG — Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadan 2026, pembahasan mengenai hilal kembali mengemuka di tengah masyarakat.
Setiap tahun, penentuan awal puasa selalu menjadi perhatian umat Islam karena berkaitan langsung dengan dimulainya ibadah Ramadan yang dinanti-nantikan.
Berbeda dengan kalender Masehi yang berbasis peredaran matahari, kalender Hijriah mengacu pada pergerakan bulan. Oleh karena itu, posisi dan keberadaan hilal menjadi penentu utama kapan umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dijadwalkan menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah pada 17 Februari 2026. Salah satu dasar utama dalam sidang tersebut adalah hasil pemantauan hilal di berbagai wilayah Indonesia.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan hilal dan mengapa keberadaannya begitu penting dalam menentukan awal Ramadan?
Pengertian Hilal dalam Kalender Islam
Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang tampak di ufuk barat sesaat setelah matahari terbenam. Kemunculan hilal menandai berakhirnya satu bulan Hijriah dan dimulainya bulan baru.
Dalam praktik keagamaan Islam, hilal memiliki peran yang sangat vital. Tidak hanya untuk Ramadan, hilal juga menjadi penentu awal bulan Syawal dan Dzulhijjah, yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah besar seperti Idulfitri dan Iduladha.
Mengapa Hilal Menjadi Acuan Awal Ramadan?
Penetapan awal Ramadan berlandaskan ajaran Islam yang menegaskan pentingnya melihat hilal sebagai tanda dimulainya puasa. Karena itu, keberadaan hilal dijadikan rujukan utama dalam menentukan tanggal 1 Ramadan.
Apabila pada tanggal 29 Syaban hilal terlihat setelah matahari terbenam, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadan. Sebaliknya, jika hilal tidak tampak, bulan Syaban akan digenapkan menjadi 30 hari, dan puasa Ramadan dimulai sehari setelahnya.
Prinsip ini tetap dipertahankan hingga kini, meskipun ilmu astronomi dan teknologi pengamatan bulan terus mengalami perkembangan.
Metode Penentuan Hilal di Indonesia
Dalam praktiknya, Indonesia menggunakan dua metode utama yang saling melengkapi dalam menentukan keberadaan hilal.
1. Rukyatul Hilal (Pengamatan Langsung)
Rukyatul hilal dilakukan dengan mengamati langsung posisi bulan di ufuk barat setelah matahari terbenam pada hari ke-29 bulan berjalan. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu optik seperti teleskop.
Rukyat biasanya dilaksanakan di berbagai titik strategis yang memiliki pandangan cakrawala barat terbuka guna meningkatkan peluang melihat hilal.
2. Hisab (Perhitungan Astronomi)
Metode hisab menggunakan perhitungan matematis dan data astronomi untuk mengetahui posisi bulan secara presisi. Dengan teknologi modern, prediksi kemunculan hilal dapat diketahui jauh hari sebelum pengamatan dilakukan.
Meski demikian, hasil hisab tidak berdiri sendiri. Data tersebut tetap dikaji dan dipadukan dengan hasil rukyat dalam forum resmi penetapan pemerintah.
Sidang Isbat Ramadan 2026 dan Peran Kemenag
Untuk menetapkan awal Ramadan 2026, Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat pada 17 Februari 2026. Dalam prosesnya, pemantauan hilal dilakukan di sekitar 96 titik lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sidang Isbat menjadi forum resmi yang menggabungkan laporan rukyatul hilal, data hisab, serta masukan dari para ahli dan organisasi keagamaan.
Jika hilal dinyatakan terlihat dan memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka Ramadan dimulai keesokan harinya. Jika tidak, bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari.
Keputusan Sidang Isbat inilah yang menjadi acuan resmi umat Islam di Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadan 2026.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar