Perpustakaan Ramah Anak Resmi Dibuka, SDN Wanasari 01 Cibitung Dorong Budaya Literasi dari Guru hingga Siswa
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 51 menit yang lalu
- comment 0 komentar

Peresmian perpustakaan ramah anak di SDN Wanasari 01 Cibitung sebagai upaya memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah.
INFO CIKARANG — Suasana berbeda terasa di lingkungan SDN Wanasari 01 Cibitung. Sebuah perpustakaan ramah anak resmi dibuka, jadi langkah baru sekolah dalam membangun budaya literasi.
Peresmian ini bukan sekadar menghadirkan ruang baca yang lebih nyaman, tapi juga bagian dari perubahan cara belajar dimulai dari guru, lalu ke siswa.
Kepala sekolah, Sulistyowati, mengaku perjalanan menuju titik ini tidak instan.
Awalnya, kondisi literasi di sekolah masih cukup menantang. Namun dari situ, ia justru melihat potensi besar dari para guru.
“Yang saya lihat, guru-guru punya kejujuran. Dari situ kita mulai bangun bareng budaya literasi,” ujarnya dikutip Kamis, (16/4/2026).
Dari Guru Menulis, Siswa Ikut Tumbuh
Program literasi di sekolah ini dimulai dari hal sederhana: membiasakan guru untuk menulis.
Mulai dari pengalaman pribadi, perasaan, hingga cita-cita, perlahan berkembang menjadi karya yang bisa dibukukan.
Dampaknya mulai terasa. Tenaga kependidikan yang sebelumnya masih kesulitan membaca, kini mulai percaya diri menulis.
“Ada yang dulu baca masih terbata-bata, sekarang sudah berani bikin tulisan sendiri,” kata Sulistyowati.
Tak hanya itu, siswa juga ikut terdorong aktif. Mereka dibiasakan menyapa dalam berbagai bahasa—Indonesia, Inggris, Arab, hingga Sunda—sebagai bagian dari literasi komunikasi.
Perubahan Nyata di Fasilitas
Pengawas SD Kecamatan Cibitung, Nahrowi, menyebut perubahan yang terjadi di sekolah ini cukup signifikan.
Ia mengingat bagaimana kondisi perpustakaan sebelumnya jauh dari kata layak.
“Dulu bukunya tidak tertata, ruangannya juga sempat bocor. Sekarang sudah jauh lebih baik,” ungkapnya.
Menurutnya, pembangunan perpustakaan ini dilakukan bertahap, mulai dari ruang kosong hingga akhirnya menjadi fasilitas yang nyaman untuk anak-anak.
Tantangan: Jangan Ramai di Awal Saja
Meski sudah berdiri, tantangan berikutnya justru menjaga konsistensi.
Nahrowi mengingatkan, budaya membaca tidak boleh hanya ramai di awal, lalu meredup seiring waktu.
“Tantangannya bagaimana anak-anak tetap mau membaca. Jangan hanya semangat di awal,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung kebiasaan membaca di rumah.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar