Banjir Genangi SMPN 4 Cikarang Barat, Ribuan Siswa Belajar dari Rumah
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month Sen, 19 Jan 2026
- comment 0 komentar

Banjir memaksa SMP Negeri 4 Cikarang Barat mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem daring.
INFO CIKARANG – Aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 4 Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, terpaksa dialihkan ke sistem pembelajaran daring setelah banjir merendam lingkungan sekolah sejak Minggu (18/1/2026).
Genangan air akibat hujan deras yang turun selama dua hari berturut-turut membuat hampir seluruh area sekolah terdampak. Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 30 sentimeter di area gerbang hingga mencapai kurang lebih 60 sentimeter di sejumlah ruang kelas.
Kepala SMPN 4 Cikarang Barat, Deary Ratnaningsih, menjelaskan banjir terjadi karena curah hujan tinggi sejak Sabtu malam yang menyebabkan debit air terus meningkat. Kondisi tersebut diperparah oleh posisi sekolah yang berada lebih rendah dibandingkan area persawahan di sekitarnya, serta keberadaan empang di bagian belakang sekolah.
“Letak sekolah memang lebih rendah, ditambah ada empang di belakang. Saat hujan deras, drainase tidak mampu menampung aliran air,” ujar Deary, Senin (19/1/2026).
Sebanyak 29 ruang kelas dilaporkan terendam dengan tingkat genangan berbeda-beda. Ruang kelas di area rendah tergenang air hingga setinggi lutut bahkan sepaha orang dewasa, sementara kelas di area yang lebih tinggi terendam setinggi mata kaki. Selain ruang kelas, banjir juga merendam ruang guru, ruang tata usaha, serta ruang kepala sekolah.
Akibat kondisi tersebut, sebanyak 1.032 siswa terdampak dan tidak dapat mengikuti pembelajaran tatap muka. Pihak sekolah pun memutuskan untuk menghentikan sementara kegiatan belajar langsung demi keselamatan siswa.
“Untuk meminimalisasi risiko, kami mengikuti surat edaran dinas dan menerapkan pembelajaran daring,” kata Deary.
Proses belajar jarak jauh dilakukan melalui berbagai platform digital, seperti Zoom, Google Form, Google Sheet, serta WhatsApp. Guru-guru yang terdampak banjir juga diberlakukan sistem kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA).
Ke depan, pihak sekolah berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah, khususnya terkait penanganan jangka panjang agar aktivitas pendidikan tidak terus terganggu setiap musim hujan.
“Kami berharap ada solusi, seperti peninggian ruang kelas atau akses ke lantai dua, supaya kegiatan belajar tetap bisa berjalan saat banjir kembali terjadi,” pungkasnya.
- Penulis: Tekad Triyanto



Saat ini belum ada komentar