Sampah Usai Lebaran Membludak, Beban TPA Burangkeng Kian Berat dan Rawan
- account_circle Tekad Triyanto
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Alat berat dikerahkan di TPA Burangkeng Bekasi untuk mengatasi peningkatan volume sampah setelah Lebaran 2026.
INFO CIKARANG — Usai perayaan Idulfitri 2026, persoalan klasik kembali muncul di Kabupaten Bekasi. Volume sampah melonjak tajam dan membebani TPA Burangkeng yang kini kondisinya semakin memprihatinkan.
Lonjakan ini bukan sekadar angka, tapi juga menambah tekanan pada kapasitas TPA yang disebut-sebut sudah mendekati batas maksimal.
Seorang pengepul sampah, Nandar Abdul Manaf atau yang akrab disapa Bang Dagul, menyoroti jenis sampah yang paling mendominasi pasca Lebaran, yakni sisa makanan.
Menurutnya, berbeda dengan sampah plastik atau logam, limbah makanan tidak memiliki nilai jual sehingga kerap dibiarkan menumpuk.
“Yang paling banyak itu sampah makanan. Pemulung juga tidak ambil karena tidak ada nilainya,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Kondisi ini membuat beban TPA semakin berat karena sampah organik tidak terkelola dengan baik.
TPA Mendekati Batas, Ancaman Longsor Mengintai
Bang Dagul mengingatkan bahwa kondisi TPA Burangkeng saat ini sudah cukup mengkhawatirkan. Selain penuh, potensi bahaya seperti longsor juga semakin nyata jika tidak segera ditangani.
Ia menilai kebiasaan membuang makanan secara berlebihan saat Lebaran turut memperparah situasi.
“Selain mubazir, sampah makanan langsung menambah tumpukan. Padahal kondisi TPA sudah penuh dan rawan longsor,” tegasnya.
Selama ini, pengurangan sampah di TPA masih sangat bergantung pada aktivitas pemulung. Namun, mereka umumnya hanya memilah sampah anorganik yang masih bisa dijual.
Akibatnya, sampah organik terus menumpuk tanpa penanganan yang memadai.
Bang Dagul menilai kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan dan membutuhkan campur tangan serius dari pemerintah.
Ia pun mendorong Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk segera menghadirkan solusi konkret, terutama dalam pengolahan sampah berbasis teknologi.
“Kalau hanya mengandalkan pemulung tidak cukup. Harus ada teknologi pengolahan supaya volume sampah bisa dikurangi,” jelasnya.
Selain peran pemerintah, kesadaran masyarakat juga dinilai penting. Warga diimbau untuk lebih bijak dalam mengelola konsumsi, terutama saat momen Lebaran yang identik dengan makanan berlimpah.
- Penulis: Tekad Triyanto


Saat ini belum ada komentar